Kecelakaan Beruntun Libatkan Empat Kendaraan di Kauman Ponorogo, Satu Orang Meninggal

Petugas mengevakuasi minibus Suzuki Carry yang terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Raya Ponorogo–Wonogiri, Desa Carat, Kecamatan Kauman.(photo by radar madiun)


PONOROGO-  Kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan tiga sepeda motor dan satu minibus terjadi di Jalan Raya Ponorogo–Wonogiri, tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Kauman, pada Senin (29/6). Insiden tragis tersebut diduga dipicu oleh manuver mendahului yang tidak aman dan berakhir dengan meninggalnya seorang pengendara sepeda motor.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Ponorogo, Iptu Abdul Cholik, menjelaskan bahwa kecelakaan bermula ketika Dicky Nur Yasin (20), warga Desa Karangan, Kecamatan Badegan, mengendarai sepeda motor Honda Beat bernomor polisi AE 6801 TU dari arah Wonogiri menuju Ponorogo. Saat melintas di lokasi kejadian, korban diduga berusaha mendahului kendaraan yang berada di depannya.

Namun, ketika melakukan manuver tersebut, korban diduga kehilangan kendali atas sepeda motornya hingga terjatuh ke badan jalan. Akibatnya, tubuh korban dan kendaraannya masuk ke jalur berlawanan. Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan melaju sebuah minibus Suzuki Carry AE 1930 SR yang dikemudikan Valdo Taufana Gusta (17). Tabrakan pun tidak dapat dihindari.

Benturan awal itu memicu kecelakaan susulan. Sepeda motor Honda Beat milik korban yang tergeletak di tengah jalan kemudian kembali ditabrak oleh Honda Beat AE 3710 VB yang dikendarai Bryant Yoga Dayu (27), warga Kabupaten Pacitan, yang melaju searah di belakang korban.

Di sisi lain, pengemudi Suzuki Carry berupaya menghindari korban dengan membanting setir ke arah kanan. Sayangnya, tindakan tersebut justru membuat kendaraan yang dikemudikannya masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan dengan Honda Supra AE 2199 SP yang dikendarai Pungky Gita Safarinda (31), warga Kecamatan Kauman.

Akibat rangkaian kecelakaan tersebut, Dicky Nur Yasin mengalami cedera kepala berat. Korban sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Sementara itu, para pengendara lain yang terlibat dilaporkan hanya mengalami luka ringan dan telah memperoleh perawatan.

Hingga kini, Satlantas Polres Ponorogo masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan. Polisi juga mengingatkan seluruh pengguna jalan agar selalu mengutamakan keselamatan, terutama saat hendak mendahului kendaraan lain. Pengendara diminta memastikan kondisi arus lalu lintas benar-benar aman, memiliki jarak pandang yang cukup, serta tidak memaksakan manuver yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.(red/lis)

Harga BBM Non Subsidi Naik, Pemkot Malang Siapkan WFH dan Rombak APBD demi Jaga Layanan Publik

(photo by malangpost)



MALANG-
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang diputuskan pemerintah pusat mulai memberikan dampak signifikan hingga ke tingkat daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang harus menghadapi meningkatnya biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mulai membebani anggaran operasional pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai layanan publik.

Sesuai ketentuan yang berlaku, seluruh kendaraan dinas milik instansi pemerintah dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Seluruh armada operasional wajib menggunakan BBM non subsidi yang kini mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut membuat belanja operasional sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya yang memiliki mobilitas tinggi, ikut meningkat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu topik utama dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM pada Selasa (30/6/2026). Dalam forum diskusi tersebut, Pemerintah Kota Malang, DPRD Kota Malang, dan kalangan akademisi membahas berbagai strategi untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal meski menghadapi tekanan kenaikan biaya operasional.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang, Muhamad Sailendra, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan harga BBM paling terasa pada armada operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Menurutnya, armada pengangkut sampah milik DLH setiap hari beroperasi melintasi hampir seluruh wilayah Kota Malang. Begitu pula kendaraan patroli Satpol PP yang memiliki mobilitas tinggi dalam menjalankan tugas penegakan peraturan daerah dan menjaga ketertiban umum.

"Dampak paling terasa memang ada pada armada pengangkut sampah dan kendaraan patroli Satpol PP. Intensitas operasional mereka sangat tinggi sehingga kebutuhan BBM juga besar. Namun sampai saat ini kami memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal dan tidak ada layanan yang dihentikan," ujar Sailendra.

Untuk mengantisipasi membengkaknya belanja operasional hingga akhir tahun anggaran, Pemerintah Kota Malang mulai menyiapkan berbagai langkah efisiensi. Salah satunya adalah mengkaji kembali penerapan sistem Work From Home (WFH) bagi OPD yang memungkinkan menjalankan pekerjaan secara daring.

Selain menekan penggunaan kendaraan dinas, pemerintah juga akan memperluas digitalisasi pelayanan publik. Berbagai layanan administrasi akan semakin dioptimalkan melalui sistem online sehingga masyarakat tidak harus datang langsung ke kantor pemerintahan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi mobilitas sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan.

Di sisi pengelolaan anggaran, Pemkot Malang juga menyiapkan kebijakan refocusing atau penataan ulang belanja daerah. Program-program yang dinilai belum menjadi prioritas akan dievaluasi agar anggarannya dapat dialihkan untuk menopang kebutuhan operasional pelayanan publik yang bersifat mendesak.

"Pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama. Karena itu kami akan melakukan penyesuaian anggaran agar kebutuhan operasional tetap terpenuhi tanpa mengurangi kualitas pelayanan," tambahnya.

Langkah efisiensi tersebut mendapat dukungan sekaligus pengawasan dari DPRD Kota Malang. Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kota Malang, Trio Agus Purwono, menegaskan bahwa pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk menyesuaikan kebutuhan anggaran pelayanan publik.

Menurutnya, kendaraan operasional yang digunakan untuk melayani masyarakat tidak boleh mengalami hambatan akibat keterbatasan anggaran BBM.

"Kendaraan pelayanan publik menyangkut kepentingan masyarakat luas. Jangan sampai operasionalnya terganggu hanya karena anggaran BBM tidak mencukupi. Pada pembahasan P-APBD nanti kami akan melakukan penyesuaian agar sektor-sektor prioritas tetap mendapatkan dukungan anggaran yang memadai," tegas Trio.

Sementara itu, kalangan akademisi mengingatkan agar setiap kebijakan efisiensi dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan kajian yang komprehensif. Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Imam Hanafi, menilai kenaikan harga BBM merupakan dampak dari kebijakan nasional yang memiliki efek sistemik terhadap pemerintah daerah.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik dunia, menurut Imam, harga energi masih berpotensi mengalami kenaikan sehingga pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan.

Ia mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru memangkas anggaran tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pelayanan publik.

"Sebelum melakukan pengalihan maupun pemotongan anggaran, perlu dilakukan kajian secara mendalam. Pemerintah daerah juga sebaiknya melibatkan perguruan tinggi agar kebijakan efisiensi benar-benar tepat sasaran dan tidak menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.

Imam menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam menyusun kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi anggaran dan kualitas pelayanan publik.(red/lis)

Kenaikan harga BBM non subsidi memang menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh pemerintah daerah. Namun tantangan tersebut juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat efisiensi birokrasi, mempercepat transformasi digital pelayanan publik, serta menyusun prioritas anggaran yang lebih tepat sasaran.

Melalui penerapan WFH secara selektif, optimalisasi layanan berbasis digital, serta penyesuaian anggaran melalui P-APBD, Pemerintah Kota Malang berupaya memastikan pelayanan dasar seperti pengangkutan sampah, penegakan ketertiban umum, hingga pelayanan administrasi kepada masyarakat tetap berjalan optimal meski di tengah meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga BBM non subsidi.(red/lis)

Usai Pengesahan Perguruan Silat, Empat Orang Dibacok Pelaku Bertopeng di Boyolali, Motor Korban Dibakar

  

Ilustrasi pembacokan di jalan (photo by radar solo)


BOYOLALI- Peristiwa berdarah mengguncang wilayah Boyolali pada Minggu (28/6/2026) malam hingga Senin (29/6/2026) dini hari. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, aksi pembacokan terjadi di tiga titik berbeda yang berada di Kecamatan Sambi dan Kecamatan Banyudono. Akibat serangkaian serangan tersebut, empat orang mengalami luka bacok dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Seluruh korban diketahui baru saja mengikuti kegiatan pengesahan anggota salah satu perguruan silat. Saat dalam perjalanan pulang, mereka diduga menjadi sasaran kelompok pelaku yang telah menunggu di sejumlah lokasi.

Kasi Humas Polres Boyolali AKP Winarsih menjelaskan, insiden pertama terjadi di Desa Trosobo, Kecamatan Sambi, sekitar pukul 00.30 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, empat orang pelaku yang mengendarai dua sepeda motor menghadang rombongan korban yang terdiri atas tujuh sepeda motor dengan total 14 orang.

Tanpa banyak bicara, para pelaku yang membawa senjata tajam langsung menyerang korban menggunakan senjata tersebut. Dari informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, seluruh pelaku menutupi identitas mereka dengan mengenakan topeng.

"Langsung menyabetkan sajam. Informasi yang kami dapat dari lokasi, pelaku memakai topeng," ujar AKP Winarsih, Senin (29/6/2026).

Polisi menduga korban yang diserang merupakan anggota rombongan yang tertinggal dari kelompok besarnya sehingga menjadi target yang lebih mudah. Selain mengakibatkan korban mengalami luka bacok, para pelaku juga membakar sepeda motor milik korban sebelum melarikan diri.

Sekitar 30 menit kemudian, aksi serupa kembali terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono. Kali ini, dua orang yang sedang berhenti di tepi jalan untuk buang air kecil tiba-tiba didatangi sekelompok pelaku bertopeng. Tanpa peringatan, korban langsung diserang menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka-luka. Tak hanya melakukan pembacokan, pelaku juga membakar sepeda motor milik kedua korban.

Akibat kejadian tersebut, dua korban dari insiden di Kecamatan Sambi dilarikan ke RS Asy Syifa Sambi untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, dua korban lainnya yang menjadi sasaran pembacokan di Banyudono dievakuasi ke RS Indriati guna menjalani perawatan intensif.

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas para pelaku dan motif di balik serangkaian aksi kekerasan tersebut. Petugas juga terus mengumpulkan keterangan saksi serta barang bukti dari lokasi kejadian guna memburu para pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran.(red/lis)

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Jadi Magnet Wisata, UMKM Lokal Kebanjiran Pembeli

  

Ribuan warga padati ritual Kebo-keboan Alasmalang, tradisi leluhur yang menghidupkan ekonomi desa.(photo by radar banyuwangi)


BANYUWANGI- Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Banyuwangi maupun daerah lain di Jawa Timur memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pada Minggu (28/6/2026), untuk menyaksikan kemeriahan ritual adat Kebo-keboan. Tradisi turun-temurun yang digelar setiap awal Bulan Suro tersebut kembali menjadi daya tarik wisata budaya yang tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa.

Sejak pagi hari, kawasan simpang empat di depan Balai Dusun Krajan yang menjadi pusat pelaksanaan ritual telah dipenuhi ribuan pengunjung. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Mereka rela datang dari berbagai daerah demi menyaksikan secara langsung salah satu tradisi adat paling ikonik di Banyuwangi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ramainya pengunjung turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga. Di sepanjang ruas jalan desa, ratusan pedagang memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak yang menjajakan beragam kuliner khas Banyuwangi, makanan tradisional, minuman, cendera mata, hingga berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perputaran ekonomi selama pelaksanaan ritual berlangsung meningkat signifikan, sehingga tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat.

Kepala Desa Alasmalang, Abdul Munir, menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan ritual Kebo-keboan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai spiritual, sosial, sekaligus ekonomi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan harapan agar musim tanam berikutnya diberikan hasil yang melimpah.

"Ritual ini adalah bentuk ikhtiar masyarakat kepada Tuhan dan mengandung makna yang baik. Kami siap mendukung penuh demi suksesnya kegiatan adat yang sudah berjalan secara turun-temurun ini," ujarnya di sela pelaksanaan kegiatan.

Sebelum memasuki prosesi utama, seluruh rangkaian ritual diawali dengan tradisi makan tumpeng bersama. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, perangkat desa, tokoh masyarakat, sesepuh adat, hingga warga duduk berdampingan menikmati hidangan sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur. Suasana hangat penuh kekeluargaan tampak begitu terasa ketika seluruh elemen masyarakat berbaur tanpa memandang status maupun latar belakang.

Prosesi inti kemudian dimulai dengan menghadirkan suasana yang semakin semarak sekaligus sarat nuansa magis. Puluhan pemuda yang telah berdandan menyerupai kerbau memasuki arena ritual. Tubuh mereka dilumuri cairan hitam pekat, dilengkapi tanduk buatan di kepala serta lonceng yang menggantung di leher sehingga menyerupai kerbau yang biasa digunakan membajak sawah.

Dengan gerakan yang lincah, para peserta menirukan perilaku kerbau saat mengolah lahan pertanian. Mereka berlari, menari, berguling di jalan, bahkan berinteraksi langsung dengan ribuan penonton yang memadati lokasi. Sesekali para peserta mengusapkan warna hitam yang melekat di tubuh mereka ke wajah pengunjung yang berada di pinggir jalan. Aksi tersebut justru disambut riuh gelak tawa, sorak-sorai, dan antusiasme masyarakat yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.

Kemeriahan ritual semakin lengkap dengan hadirnya iring-iringan perempuan petani yang mengenakan pakaian adat Suku Osing. Mereka berjalan membawa wakul berisi berbagai hasil bumi, seperti padi, sayuran, dan hasil panen lainnya. Arak-arakan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan hasil pertanian sekaligus doa agar masyarakat kembali memperoleh panen yang melimpah pada musim tanam berikutnya.

Dalam filosofi masyarakat Desa Alasmalang, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan sahabat petani yang memiliki peran penting dalam kehidupan agraris. Kerbau melambangkan kekuatan, ketekunan, kesetiaan, dan semangat bekerja keras dalam mengolah sawah. Karena itulah, ritual Kebo-keboan menjadi bentuk penghormatan kepada alam, Sang Pencipta, serta pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tradisi.

Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak abad ke-18 ini hingga kini tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Kebo-keboan tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Banyuwangi, tetapi juga berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang mampu menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Kehadiran para pengunjung memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, kuliner, jasa, hingga pariwisata desa.

Perpaduan antara nilai spiritual, kearifan lokal, pelestarian budaya, dan manfaat ekonomi menjadikan ritual Kebo-keboan Alasmalang sebagai salah satu tradisi paling autentik di Banyuwangi. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya leluhur tidak hanya layak dijaga, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi berbasis budaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(red/lis)

Bromo Sky Bridge Hadir, Wisata Adrenalin Baru di Kawasan Penyangga Gunung Bromo

  

SOFT LAUNCHING: Sejumlah warga menikmati sensasi jalan di jembatan kaca Bromo. (photo by radar bromo)


BROMO- Destinasi wisata baru di kawasan penyangga Gunung Bromo, Bromo Sky Bridge, resmi dibuka untuk umum pada Sabtu (27/6). Kehadiran jembatan kaca tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Bromo. Sejak hari pertama beroperasi, lokasi ini dipadati pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berjalan di atas jembatan kaca sambil menikmati panorama megah Kaldera Bromo dari ketinggian.

Presiden Direktur The Lawu Grup, Parmin Sastro, mengatakan bahwa pembangunan Bromo Sky Bridge tidak hanya bertujuan menambah pilihan destinasi wisata di kawasan Bromo, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus mampu menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan sekaligus menciptakan manfaat bagi pelaku usaha dan warga di sekitar kawasan wisata.

"Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun destinasi wisata yang memberikan pengalaman berbeda dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung. Kami juga berharap mendapat doa dan dukungan agar wisata ini terus berkembang," ujarnya.

Parmin menjelaskan bahwa Bromo Sky Bridge mengusung konsep wisata adrenalin yang berbeda dengan destinasi lain di kawasan Bromo. Pengunjung dapat menikmati keindahan bentang alam dari sudut pandang baru melalui jembatan kaca yang membentang di atas lembah dengan sensasi berjalan di atas ketinggian.

Jembatan kaca tersebut memiliki panjang sekitar 120 meter dan berada di ketinggian kurang lebih 100 meter dari permukaan tanah. Dengan karakteristik tersebut, Bromo Sky Bridge diklaim sebagai salah satu jembatan kaca tertinggi di Indonesia yang menawarkan perpaduan antara wisata alam dan tantangan bagi para pencinta adrenalin.

"Ini memang destinasi wisata yang dirancang khusus bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi berbeda. Saat berjalan di atas jembatan, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan Kaldera Bromo dari ketinggian yang memacu adrenalin," jelasnya.

Untuk menikmati wahana ini, pengelola menetapkan tarif masuk sebesar Rp55 ribu bagi wisatawan domestik dan Rp110 ribu untuk wisatawan mancanegara. Menurut Parmin, harga tersebut masih tergolong kompetitif apabila dibandingkan dengan sejumlah destinasi jembatan kaca serupa di Bali maupun di China.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, menilai kehadiran Bromo Sky Bridge dapat membantu mendistribusikan arus wisatawan yang selama ini terkonsentrasi di beberapa titik favorit untuk menikmati matahari terbit.

Ia menjelaskan bahwa selama ini kepadatan wisatawan kerap terjadi di lokasi-lokasi sunrise seperti Penanjakan dan Bukit Kingkong. Dengan adanya alternatif baru berupa jembatan kaca, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati panorama Bromo sehingga potensi kemacetan maupun penumpukan pengunjung dapat dikurangi.

"Ke depan wisatawan tidak hanya menikmati matahari terbit dari satu lokasi, tetapi juga dapat menikmati pemandangan dari jembatan kaca. Hal ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan di titik-titik tertentu," katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap destinasi baru ini terlihat sejak hari pertama pembukaan. Banyak wisatawan rela mengantre untuk mencoba berjalan di atas lantai kaca sambil mengabadikan momen dengan latar belakang bentangan Kaldera Bromo yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Di sisi lain, tingginya jumlah pengunjung juga menjadi ujian awal bagi pengelola dalam menerapkan sistem pengelolaan serta standar keselamatan. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, sejumlah aturan diberlakukan secara ketat.

Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan pelindung alas kaki (shoe cover) sebelum memasuki area jembatan guna menjaga kualitas kaca. Anak-anak harus selalu berada dalam pengawasan orang tua selama berada di atas jembatan. Selain itu, kapasitas pengunjung dibatasi hanya sekitar 30 hingga 40 orang dalam satu waktu agar beban tetap sesuai standar keamanan.

Pengelola juga melarang berbagai aktivitas yang berpotensi membahayakan, seperti berlari, melompat, mengguncang jembatan, duduk di lantai kaca, maupun memanjat pagar pembatas.

Salah seorang wisatawan asal Blitar, Siti Mukarromah (55), mengaku sengaja mencoba wahana tersebut saat berlibur bersama keluarganya di Bromo. Meski memiliki rasa takut terhadap ketinggian, ia tetap memberanikan diri untuk berjalan di atas jembatan kaca.

"Kebetulan kami sedang berlibur di Bromo, lalu mengetahui ada wisata baru yang baru dibuka. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba," ujarnya.

Siti mengaku pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri karena dapat menikmati panorama alam yang indah dari sudut pandang yang berbeda. Namun demikian, ia berharap ke depan tersedia tambahan fasilitas berupa jaring pengaman di bawah jembatan agar pengunjung yang memiliki ketakutan terhadap ketinggian merasa lebih nyaman.

"Menurut saya, kalau ada jaring pengaman di bawah jembatan mungkin pengunjung yang takut ketinggian akan lebih tenang. Semoga ke depan semakin banyak inovasi wisata di sekitar Bromo sehingga wisatawan selalu tertarik untuk kembali berkunjung," katanya.

Hal senada disampaikan Yoga (28), wisatawan asal Bondowoso. Ia mengaku penasaran setelah melihat informasi mengenai pembukaan Bromo Sky Bridge saat sedang berwisata di kawasan Bromo.

"Saya memang sedang jalan-jalan ke Bromo. Setelah melihat ada jembatan kaca yang baru dibuka, saya langsung tertarik untuk mencobanya," tuturnya.

Sementara itu, Yana (38), wisatawan asal Kediri yang mengaku memiliki fobia terhadap ketinggian, tetap berusaha menikmati pengalaman tersebut meski tidak berani berjalan hingga ke bagian tengah jembatan.

"Saya memang takut ketinggian, jadi hanya berjalan sampai sebagian saja. Meski begitu, menurut saya tempatnya sangat menarik dan pemandangannya luar biasa indah," ungkapnya.

Kehadiran Bromo Sky Bridge diharapkan semakin memperkaya pilihan destinasi wisata di kawasan penyangga Gunung Bromo. Selain menawarkan pengalaman baru yang memadukan panorama alam dan sensasi adrenalin, keberadaan wahana ini juga diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperkuat ekonomi masyarakat sekitar, serta mendukung pemerataan kunjungan wisata di kawasan Bromo.(red/lis)

Ibu Rumah Tangga Muda Tewas Ditusuk di Pringsewu, Pelaku Diduga Suami Siri

Polisi olah TKP peristiwa dugaan pembunuhan di Pringsewu, Lampung (photo by liputan6.com)



JAKARTA- Warga di lingkungan Pekon Pemenang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung, dikejutkan oleh peristiwa memilukan yang terjadi pada Jumat malam, 26 Juni 2026. Seorang ibu rumah tangga muda ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersimbah darah dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Diduga kuat, korban menjadi sasaran pembunuhan yang dilakukan oleh suami sirinya sendiri.

Korban diidentifikasi bernama Anes Wulandari (20 tahun), yang berdomisili di Dusun 5, Pekon Pemenang. Sementara pria yang diduga sebagai pelaku adalah Heru Purwanto (43 tahun), seorang buruh yang berasal dari Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.

Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, peristiwa ini bermula sejak sore hari ketika korban sudah menolak ajakan bertemu dari Heru. Meski ditolak, Heru tetap datang kembali ke kediaman korban pada malam harinya dengan alasan ingin membahas hal yang mendesak. Saat itu, Anes sedang merawat ayahnya yang sedang sakit, namun akhirnya bersedia keluar rumah untuk menemui Heru.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 20 meter dari halaman rumah korban diduga berubah menjadi pertengkaran hebat. Perselisihan tersebut memuncak hingga terjadi penusukan yang merenggut nyawa Anes. Suara teriakan minta tolong yang terdengar kencang menarik perhatian warga sekitar, yang kemudian segera bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Beberapa saksi mata melaporkan melihat sesosok pria berlari menjauh dari lokasi kejadian. Warga pun berusaha mengejar ke arah kebun di dekat tempat tersebut. Namun, alih-alih menangkap pelaku, mereka justru menemukan Heru tergeletak lemah di sebuah bekas kolam ikan. Ia mengalami luka tusukan yang cukup parah di bagian perut, bahkan hingga menyebabkan ususnya terlihat keluar. Heru segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya.
Pihak kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal Polres Pringsewu bersama jajaran Polsek 

Pagelaran telah segera turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan penyelidikan. Kepala Bidang terkait, Iptu Agus, mengonfirmasi peristiwa tersebut pada Minggu, 28 Juni 2026. “Benar telah terjadi dugaan tindak pidana yang berujung pada meninggalnya korban. Saat ini tim kami masih mendalami kronologi lengkap, mengumpulkan keterangan saksi, serta mengamankan barang bukti untuk mengungkap motif pasti di balik kejadian ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, jenazah Anes Wulandari telah diserahkan sepenuhnya kepada keluarga dan dimakamkan pada pagi hari Sabtu, 27 Juni 2026, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pekon Pemenang. Sementara itu, Heru Purwanto masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan pengawasan ketat dari aparat kepolisian, mengingat statusnya sebagai tersangka dalam kasus ini.(red/lis)

ESDM: Pasokan Batu Bara Pembangkit PLN Terkendali, Ekspor Sudah Kembali Normal

Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten.Photo by liputan6.com


JAKARTA- Pemerintah memastikan ketersediaan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) dalam kondisi aman. Kepastian tersebut menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah tingginya kebutuhan listrik di berbagai daerah.

Sebagai bentuk antisipasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya sempat melakukan penyesuaian sementara terhadap ekspor batu bara dengan spesifikasi tertentu. Kebijakan itu ditempuh agar kebutuhan batu bara dalam negeri, khususnya untuk pembangkit listrik PLN, tetap terpenuhi sesuai standar kualitas yang dibutuhkan.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari fungsi pemerintah sebagai regulator dalam memastikan prioritas pasokan energi nasional tetap terjaga.

"Hingga saat ini pemerintah telah mengamankan sekitar 141 juta metrik ton (MT) batu bara atau sekitar 91,6 persen dari total kebutuhan PLN sepanjang tahun 2026 yang diperkirakan mencapai 154 juta MT," ujar Anggia di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, pembatasan ekspor hanya bersifat sementara dan dilakukan berdasarkan kondisi pasokan domestik serta kebutuhan operasional pembangkit listrik PLN. Setelah pasokan dalam negeri kembali stabil, aktivitas ekspor batu bara kini telah berjalan normal tanpa adanya pembatasan khusus.

"Langkah ini diambil sebagai bagian dari fungsi pengawasan Kementerian ESDM sebagai regulator. Seiring membaiknya kondisi pasokan dalam negeri, kegiatan ekspor batu bara kini telah kembali berjalan normal," katanya.

Dengan kondisi pasokan yang dinilai telah mencukupi, pemerintah memastikan pelaku usaha pertambangan dapat kembali menjalankan aktivitas ekspor sesuai ketentuan yang berlaku tanpa mengganggu kebutuhan energi nasional.

Pengawasan Pasokan Batu Bara Diperkuat

Selain menjamin ketersediaan batu bara, pemerintah juga memperkuat pengawasan terhadap proses pengadaan energi primer untuk pembangkit PLN. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi guna mencegah terulangnya potensi gangguan pasokan listrik akibat keterlambatan distribusi bahan bakar pembangkit.

Pengawasan tersebut akan dilakukan secara terpadu oleh tim yang melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), serta PT PLN (Persero).

Menurut Anggia, sinergi antarinstansi tersebut bertujuan memastikan seluruh perusahaan tambang menjalankan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), yakni kewajiban memasok sebagian produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Langkah pengawasan yang dilakukan oleh tim dari BPKP, Kementerian ESDM, dan PLN bertujuan memastikan kewajiban DMO dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga pasokan batu bara bagi pembangkit tenaga listrik tetap terjamin," jelasnya.

Fokus pada Penegakan Aturan yang Sudah Berlaku

Kementerian ESDM menegaskan pemerintah tidak berencana menerbitkan regulasi baru terkait pembatasan ekspor batu bara. Sebaliknya, pemerintah memilih memperkuat implementasi serta penegakan regulasi yang telah ada agar pelaksanaan kewajiban DMO berjalan lebih efektif.

Menurut Anggia, kerangka hukum mengenai pemenuhan kebutuhan batu bara domestik sudah cukup kuat sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaannya.

Salah satu dasar hukum yang menjadi acuan adalah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Regulasi tersebut mengatur kewajiban perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) sebelum melakukan ekspor.

Melalui penguatan pengawasan tersebut, pemerintah berharap ketersediaan energi primer bagi pembangkit listrik PLN tetap terjamin sepanjang tahun. Dengan pasokan batu bara yang aman, keandalan sistem kelistrikan nasional dapat terus dipertahankan sehingga masyarakat maupun sektor industri tidak terganggu oleh potensi krisis pasokan energi.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi nasional dan keberlangsungan ekspor batu bara. Dengan demikian, sektor pertambangan tetap mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional tanpa mengorbankan keamanan pasokan energi di dalam negeri.(red/lis)