MALANG -Nama AKBP Ferli Hidayat atau yang lebih dikenal dengan sapaan Sam Ferli pernah menjadi perhatian publik setelah peristiwa Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022. Perwira menengah Polri tersebut saat itu menjabat sebagai Kapolres Malang dan menjadi salah satu pejabat yang terkena kebijakan mutasi setelah insiden yang menewaskan ratusan suporter di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 3 September 1982, Ferli Hidayat menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara dan lulus pada 2001. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan berhasil menyelesaikannya pada 2004 sebagai bagian dari generasi perwira Polri.
Sepanjang perjalanan kariernya, Ferli lebih banyak mengabdi di bidang Lalu Lintas (Lantas). Pengalamannya di bidang tersebut membawanya menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk sebagai Kasubbag Bungkol Spripim Polri. Rekam jejak tersebut menjadi modal sebelum akhirnya dipercaya memimpin Polres Malang.
Pada 24 Januari 2022, AKBP Ferli Hidayat resmi dilantik sebagai Kapolres Malang. Selama memimpin wilayah hukum tersebut, ia aktif menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok suporter sepak bola yang memiliki basis besar di Kabupaten Malang.
Mengajak Aremania Menjaga Kondusivitas
Beberapa hari sebelum pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang berlangsung pada 1 Oktober 2022, Ferli sempat menyampaikan pesan kepada para suporter melalui siaran langsung Instagram bertajuk Njagong Bareng – Rivalitas 90 Menit Seduluran Selawase! pada 29 September 2022.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh Aremania dan Aremanita untuk menunjukkan sikap sportif serta memberikan dukungan positif kepada klub kebanggaannya. Menurutnya, suporter memiliki peran penting sebagai pemain ke-12 yang mampu menciptakan atmosfer pertandingan yang aman dan kondusif.
Ferli juga berharap seluruh rangkaian pertandingan dapat berlangsung dengan tertib sehingga keamanan dan ketertiban di wilayah Malang tetap terjaga, apa pun hasil pertandingan yang diraih kedua tim.
Tragedi Kanjuruhan Mengubah Segalanya
Harapan tersebut berubah menjadi tragedi setelah laga Arema FC kontra Persebaya berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022.
Kekalahan Arema FC memicu sebagian penonton memasuki lapangan. Saat itu, Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menyebut sekitar 3.000 orang dari total kurang lebih 40.000 penonton turun ke area pertandingan.
Situasi kemudian berkembang menjadi tidak terkendali ketika aparat keamanan melepaskan gas air mata, termasuk ke arah tribun penonton. Kepanikan massal terjadi ketika ribuan suporter berusaha keluar stadion secara bersamaan. Kondisi pintu keluar yang padat menyebabkan banyak orang terjatuh, terinjak, hingga mengalami sesak napas akibat kekurangan oksigen.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi sepak bola terbesar dalam sejarah Indonesia dengan korban meninggal dunia mencapai 125 orang berdasarkan data yang saat itu diumumkan pemerintah.
Dicopot dari Jabatan Kapolres Malang
Sebagai tindak lanjut atas Tragedi Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan evaluasi terhadap jajaran kepolisian yang bertugas dalam pengamanan pertandingan.
Melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2098/X/2022 yang diterbitkan pada 3 Oktober 2022, AKBP Ferli Hidayat dicopot dari jabatannya sebagai Kapolres Malang. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Kadiv Humas Polri saat itu, Irjen Dedi Prasetyo.
Setelah dimutasi, Ferli ditempatkan sebagai Perwira Menengah (Pamen) SSDM Polri. Posisinya sebagai Kapolres Malang kemudian diisi oleh AKBP Putu Kholis Arya sebagai bagian dari langkah evaluasi dan pembenahan pascatragedi Kanjuruhan yang menjadi perhatian nasional maupun internasional.(red/lis)