Tujuh Jamaah Haji Asal Tulungagung Meninggal di Tanah Suci, Satu Masih Dirawat di Arab Saudi

jemaah haji asal Tulungagung saat tiba di Tanah Air usai menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci (photo by koranmemo.id)


TULUNGAGUNG- Seluruh jamaah haji asal Kabupaten Tulungagung yang menunaikan ibadah haji pada musim haji 2026 telah kembali ke Tanah Air sejak akhir Juni lalu. Kepulangan jamaah berlangsung secara bertahap sesuai kelompok terbang (kloter), dengan kloter terakhir tiba di Indonesia pada Selasa (30/6/2026).

Meski mayoritas jamaah telah kembali dalam kondisi selamat, terdapat sejumlah jamaah yang meninggal dunia saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Selain itu, seorang jamaah hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Arab Saudi sehingga belum dapat dipulangkan bersama rombongan lainnya.

Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Tulungagung, Suryani, mengatakan jumlah jamaah haji asal Tulungagung yang diberangkatkan ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini mencapai 1.174 orang. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok terbang, yakni Kloter 102, 103, 104, 105, dan 112.

Menurutnya, seluruh rangkaian kepulangan jamaah telah selesai dilaksanakan. Kloter terakhir yang membawa jamaah asal Tulungagung merupakan Kloter 112 yang merupakan kloter gabungan bersama jamaah dari Kabupaten Nganjuk dan Kota Kediri. Dalam kloter tersebut terdapat enam jamaah asal Tulungagung yang akhirnya tiba di Tanah Air.

"Saat ini seluruh jamaah haji asal Tulungagung sudah kembali ke daerah. Kloter terakhir merupakan kloter gabungan dengan Kabupaten Nganjuk dan Kota Kediri," ujar Suryani, Kamis (2/7/2026).

Berdasarkan data yang diterima Kemenhaj Tulungagung, sebanyak 1.166 jamaah berhasil kembali ke Indonesia. Sementara itu, tujuh jamaah lainnya meninggal dunia saat berada di Tanah Suci. Mereka dilaporkan wafat akibat mengalami gangguan kesehatan yang diperparah dengan kelelahan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

Seluruh jamaah yang meninggal dunia telah dimakamkan di Arab Saudi sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi jamaah haji yang wafat di Tanah Suci.

Selain itu, Kemenhaj Tulungagung juga masih memantau kondisi seorang jamaah bernama Sarmini, warga Kecamatan Besuki, yang hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Arab Saudi. Sarmini merupakan jamaah yang tergabung dalam Kloter 102 saat keberangkatan menuju Tanah Suci.

"Sesuai laporan yang kami terima, terdapat tujuh jamaah yang meninggal dunia dan dimakamkan di Tanah Suci. Sementara satu jamaah lainnya masih menjalani perawatan karena sakit," jelas Suryani.

Ia menambahkan, apabila kondisi kesehatan Sarmini telah membaik dan dinyatakan layak terbang oleh tim medis, yang bersangkutan akan dipulangkan ke Indonesia bersama jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam Kloter 116.

Selama menjalani perawatan hingga proses kepulangan ke Indonesia, seluruh biaya yang dibutuhkan akan menjadi tanggungan pemerintah. Saat ini, pihak Kemenhaj Tulungagung terus berkoordinasi dengan petugas haji di Arab Saudi untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan jamaah tersebut agar dapat segera berkumpul kembali bersama keluarga di Tanah Air.

"Apabila sudah dinyatakan sembuh, jamaah tersebut akan segera diterbangkan ke Indonesia. Seluruh biaya perawatan maupun kepulangan ditanggung oleh pemerintah," pungkas Suryani.(red/lis)

Motor Sport Rp40 Juta Hilang Saat Test Drive, Korban Tertipu Pembeli Gadungan

  





SURABAYA- Warga Surabaya kembali diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya aksi penipuan berkedok transaksi jual beli kendaraan dengan modus test drive. Modus ini kembali memakan korban. Kali ini, sebuah sepeda motor sport milik Moreno N, warga Jalan Gayungsari XII, Kecamatan Gayungan, Surabaya, raib dibawa kabur oleh pria yang berpura-pura menjadi calon pembeli.

Korban kehilangan sepeda motor Kawasaki Ninja bernomor polisi L 4627 CAE setelah pelaku memanfaatkan kesempatan untuk melakukan uji coba kendaraan. Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan kini masih dalam tahap penyelidikan oleh Polsek Gayungan.

Moreno menuturkan bahwa sebelum kejadian, ia mengiklankan motornya melalui marketplace Facebook dengan harga Rp40 juta. Tak lama setelah iklan dipasang, seorang pria yang mengaku bernama Immanuel menghubunginya melalui pesan pribadi Facebook. Komunikasi keduanya kemudian berlanjut melalui aplikasi WhatsApp untuk membahas kondisi motor serta rencana pertemuan.

Pelaku menyampaikan niatnya untuk melihat langsung kendaraan dan berjanji datang ke rumah korban pada Jumat (26/6) sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, pria tersebut baru tiba sekitar pukul 15.00 WIB dengan menggunakan sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang laki-laki lain.

Saat tiba di lokasi, pelaku memeriksa kondisi motor secara detail layaknya calon pembeli pada umumnya. Sementara itu, pria yang mengemudikan mobil tetap menunggu di teras rumah sehingga korban mengira keduanya datang bersama sebagai teman atau rekan.

Setelah merasa puas memeriksa kendaraan, pelaku meminta izin kepada korban untuk melakukan test drive dengan alasan ingin memastikan performa motor sebelum memutuskan membeli. Karena tidak menaruh curiga, Moreno menyerahkan kunci motornya tanpa meminta jaminan berupa identitas ataupun kendaraan yang digunakan pelaku.

Pelaku kemudian membawa motor keluar dari halaman rumah dan melaju meninggalkan lokasi. Beberapa saat setelah itu, pria yang berada di mobil justru menghampiri korban dan menanyakan mengapa test drive tidak didampingi.

Korban kemudian terkejut ketika pria tersebut mengaku bukan teman pelaku, melainkan hanya seorang pengemudi taksi online yang mendapat pesanan untuk mengantar pelaku ke lokasi transaksi.

"Saya kira mereka datang bersama. Ternyata sopir itu hanya mengantar penumpang dan sama sekali tidak mengenal pelaku," ungkap Moreno.

Menyadari telah menjadi korban penipuan, Moreno langsung panik. Ia sempat menunggu pelaku kembali, namun hingga malam hari tidak ada kabar maupun komunikasi dari pria yang mengaku bernama Immanuel tersebut. Korban pun segera melaporkan kejadian itu ke Polsek Gayungan.

Dalam laporannya, Moreno turut menyerahkan sejumlah barang bukti kepada penyidik, di antaranya rekaman kamera CCTV di sekitar rumah serta dokumen kepemilikan kendaraan guna membantu proses penyelidikan dan identifikasi pelaku.

Kanit Reskrim Polsek Gayungan, Ipda Robhen Sutono, membenarkan bahwa laporan korban telah diterima dan saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Polisi tengah mengumpulkan keterangan saksi, memeriksa rekaman CCTV, serta menelusuri identitas pelaku yang diduga menggunakan identitas palsu saat bertransaksi.

"Masih dalam penyelidikan. Mohon doanya," ujar Robhen singkat saat dikonfirmasi.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat yang hendak menjual kendaraan secara daring agar lebih berhati-hati. Penjual disarankan tidak memberikan kesempatan test drive tanpa pendampingan, meminta identitas asli calon pembeli, serta memastikan adanya jaminan yang memadai sebelum menyerahkan kunci kendaraan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko menjadi korban penipuan dengan modus serupa yang belakangan kembali marak terjadi.(red/lis)

Geger! Warga Wonokromo Temukan Mayat Bayi di Sungai, Diduga Dibuang dalam Kendil

  

DIEVAKUASI: Penemuan mayat bayi atau orok di sungai Jalan Pulo Wonokromo, Surabaya. Mayat bayi ini ditaruh dalam kendil.(photo by radar surabaya)


SURABAYA- Warga Jalan Pulo Wonokromo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, digegerkan dengan penemuan sesosok mayat bayi berjenis kelamin laki-laki di aliran sungai belakang permukiman, Selasa (30/6) malam. Bayi tersebut diduga sengaja dibuang menggunakan sebuah kendil yang kemudian ditemukan dalam kondisi pecah di tepi sungai.

Kapolsek Wonokromo Kompol Eko Aprianto menjelaskan, penemuan mayat bayi itu berawal dari informasi yang diterima seorang warga berinisial S (67). Sebelumnya, S mendapat kabar dari saksi lain berinisial SU yang melihat seorang pria membuang sesuatu menggunakan kendil ke arah sungai sekitar pukul 16.00 WIB.

Awalnya, S mengira benda yang dibuang tersebut hanyalah sampah. Namun karena rasa penasaran, sekitar pukul 20.00 WIB ia memutuskan untuk memeriksa lokasi. Saat tiba di tepi sungai, kendil yang sebelumnya terlihat sudah dalam kondisi pecah. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui isi kendil tersebut adalah jasad seorang bayi laki-laki.

"Awalnya saksi mengira hanya sampah yang dibuang ke sungai. Setelah dicek kembali pada malam hari, ternyata kendil sudah pecah dan di dalamnya ditemukan mayat bayi laki-laki," ujar Eko, Rabu (1/7).

Mengetahui temuan tersebut, saksi langsung panik dan memberitahukan kepada warga sekitar. Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke Polsek Wonokromo serta diteruskan ke Command Center 112 untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Petugas dari Tim Inafis Polrestabes Surabaya bersama personel kepolisian segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil pemeriksaan awal, bayi ditemukan dalam kondisi tubuh mulai membiru dan masih memiliki tali pusar yang menempel. Selain itu, polisi juga mengamankan pecahan kendil yang diduga digunakan sebagai wadah saat jasad bayi dibuang.

"Hasil olah TKP menunjukkan tubuh bayi sudah agak kebiruan, tali pusar masih menempel, dan sejauh ini tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," terang Eko.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Wonokromo Iptu Wasito Adi mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku yang diduga membuang jasad bayi tersebut ke sungai. Polisi juga mengumpulkan keterangan para saksi serta menelusuri kemungkinan adanya rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.

"Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Kami masih melakukan lidik untuk mengungkap pelaku," singkat Wasito.

Hingga kini, jenazah bayi telah dievakuasi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan penyebab kematian serta mendukung proses penyelidikan yang sedang dilakukan aparat kepolisian.(red/lis)

Kecelakaan Beruntun Libatkan Empat Kendaraan di Kauman Ponorogo, Satu Orang Meninggal

Petugas mengevakuasi minibus Suzuki Carry yang terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Raya Ponorogo–Wonogiri, Desa Carat, Kecamatan Kauman.(photo by radar madiun)


PONOROGO-  Kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan tiga sepeda motor dan satu minibus terjadi di Jalan Raya Ponorogo–Wonogiri, tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Kauman, pada Senin (29/6). Insiden tragis tersebut diduga dipicu oleh manuver mendahului yang tidak aman dan berakhir dengan meninggalnya seorang pengendara sepeda motor.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Ponorogo, Iptu Abdul Cholik, menjelaskan bahwa kecelakaan bermula ketika Dicky Nur Yasin (20), warga Desa Karangan, Kecamatan Badegan, mengendarai sepeda motor Honda Beat bernomor polisi AE 6801 TU dari arah Wonogiri menuju Ponorogo. Saat melintas di lokasi kejadian, korban diduga berusaha mendahului kendaraan yang berada di depannya.

Namun, ketika melakukan manuver tersebut, korban diduga kehilangan kendali atas sepeda motornya hingga terjatuh ke badan jalan. Akibatnya, tubuh korban dan kendaraannya masuk ke jalur berlawanan. Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan melaju sebuah minibus Suzuki Carry AE 1930 SR yang dikemudikan Valdo Taufana Gusta (17). Tabrakan pun tidak dapat dihindari.

Benturan awal itu memicu kecelakaan susulan. Sepeda motor Honda Beat milik korban yang tergeletak di tengah jalan kemudian kembali ditabrak oleh Honda Beat AE 3710 VB yang dikendarai Bryant Yoga Dayu (27), warga Kabupaten Pacitan, yang melaju searah di belakang korban.

Di sisi lain, pengemudi Suzuki Carry berupaya menghindari korban dengan membanting setir ke arah kanan. Sayangnya, tindakan tersebut justru membuat kendaraan yang dikemudikannya masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan dengan Honda Supra AE 2199 SP yang dikendarai Pungky Gita Safarinda (31), warga Kecamatan Kauman.

Akibat rangkaian kecelakaan tersebut, Dicky Nur Yasin mengalami cedera kepala berat. Korban sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Sementara itu, para pengendara lain yang terlibat dilaporkan hanya mengalami luka ringan dan telah memperoleh perawatan.

Hingga kini, Satlantas Polres Ponorogo masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan. Polisi juga mengingatkan seluruh pengguna jalan agar selalu mengutamakan keselamatan, terutama saat hendak mendahului kendaraan lain. Pengendara diminta memastikan kondisi arus lalu lintas benar-benar aman, memiliki jarak pandang yang cukup, serta tidak memaksakan manuver yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.(red/lis)

Harga BBM Non Subsidi Naik, Pemkot Malang Siapkan WFH dan Rombak APBD demi Jaga Layanan Publik

(photo by malangpost)



MALANG-
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang diputuskan pemerintah pusat mulai memberikan dampak signifikan hingga ke tingkat daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang harus menghadapi meningkatnya biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mulai membebani anggaran operasional pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai layanan publik.

Sesuai ketentuan yang berlaku, seluruh kendaraan dinas milik instansi pemerintah dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Seluruh armada operasional wajib menggunakan BBM non subsidi yang kini mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut membuat belanja operasional sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya yang memiliki mobilitas tinggi, ikut meningkat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu topik utama dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM pada Selasa (30/6/2026). Dalam forum diskusi tersebut, Pemerintah Kota Malang, DPRD Kota Malang, dan kalangan akademisi membahas berbagai strategi untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal meski menghadapi tekanan kenaikan biaya operasional.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang, Muhamad Sailendra, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan harga BBM paling terasa pada armada operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Menurutnya, armada pengangkut sampah milik DLH setiap hari beroperasi melintasi hampir seluruh wilayah Kota Malang. Begitu pula kendaraan patroli Satpol PP yang memiliki mobilitas tinggi dalam menjalankan tugas penegakan peraturan daerah dan menjaga ketertiban umum.

"Dampak paling terasa memang ada pada armada pengangkut sampah dan kendaraan patroli Satpol PP. Intensitas operasional mereka sangat tinggi sehingga kebutuhan BBM juga besar. Namun sampai saat ini kami memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal dan tidak ada layanan yang dihentikan," ujar Sailendra.

Untuk mengantisipasi membengkaknya belanja operasional hingga akhir tahun anggaran, Pemerintah Kota Malang mulai menyiapkan berbagai langkah efisiensi. Salah satunya adalah mengkaji kembali penerapan sistem Work From Home (WFH) bagi OPD yang memungkinkan menjalankan pekerjaan secara daring.

Selain menekan penggunaan kendaraan dinas, pemerintah juga akan memperluas digitalisasi pelayanan publik. Berbagai layanan administrasi akan semakin dioptimalkan melalui sistem online sehingga masyarakat tidak harus datang langsung ke kantor pemerintahan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi mobilitas sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan.

Di sisi pengelolaan anggaran, Pemkot Malang juga menyiapkan kebijakan refocusing atau penataan ulang belanja daerah. Program-program yang dinilai belum menjadi prioritas akan dievaluasi agar anggarannya dapat dialihkan untuk menopang kebutuhan operasional pelayanan publik yang bersifat mendesak.

"Pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama. Karena itu kami akan melakukan penyesuaian anggaran agar kebutuhan operasional tetap terpenuhi tanpa mengurangi kualitas pelayanan," tambahnya.

Langkah efisiensi tersebut mendapat dukungan sekaligus pengawasan dari DPRD Kota Malang. Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kota Malang, Trio Agus Purwono, menegaskan bahwa pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk menyesuaikan kebutuhan anggaran pelayanan publik.

Menurutnya, kendaraan operasional yang digunakan untuk melayani masyarakat tidak boleh mengalami hambatan akibat keterbatasan anggaran BBM.

"Kendaraan pelayanan publik menyangkut kepentingan masyarakat luas. Jangan sampai operasionalnya terganggu hanya karena anggaran BBM tidak mencukupi. Pada pembahasan P-APBD nanti kami akan melakukan penyesuaian agar sektor-sektor prioritas tetap mendapatkan dukungan anggaran yang memadai," tegas Trio.

Sementara itu, kalangan akademisi mengingatkan agar setiap kebijakan efisiensi dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan kajian yang komprehensif. Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Imam Hanafi, menilai kenaikan harga BBM merupakan dampak dari kebijakan nasional yang memiliki efek sistemik terhadap pemerintah daerah.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik dunia, menurut Imam, harga energi masih berpotensi mengalami kenaikan sehingga pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan.

Ia mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru memangkas anggaran tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pelayanan publik.

"Sebelum melakukan pengalihan maupun pemotongan anggaran, perlu dilakukan kajian secara mendalam. Pemerintah daerah juga sebaiknya melibatkan perguruan tinggi agar kebijakan efisiensi benar-benar tepat sasaran dan tidak menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.

Imam menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam menyusun kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi anggaran dan kualitas pelayanan publik.(red/lis)

Kenaikan harga BBM non subsidi memang menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh pemerintah daerah. Namun tantangan tersebut juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat efisiensi birokrasi, mempercepat transformasi digital pelayanan publik, serta menyusun prioritas anggaran yang lebih tepat sasaran.

Melalui penerapan WFH secara selektif, optimalisasi layanan berbasis digital, serta penyesuaian anggaran melalui P-APBD, Pemerintah Kota Malang berupaya memastikan pelayanan dasar seperti pengangkutan sampah, penegakan ketertiban umum, hingga pelayanan administrasi kepada masyarakat tetap berjalan optimal meski di tengah meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga BBM non subsidi.(red/lis)

Usai Pengesahan Perguruan Silat, Empat Orang Dibacok Pelaku Bertopeng di Boyolali, Motor Korban Dibakar

  

Ilustrasi pembacokan di jalan (photo by radar solo)


BOYOLALI- Peristiwa berdarah mengguncang wilayah Boyolali pada Minggu (28/6/2026) malam hingga Senin (29/6/2026) dini hari. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, aksi pembacokan terjadi di tiga titik berbeda yang berada di Kecamatan Sambi dan Kecamatan Banyudono. Akibat serangkaian serangan tersebut, empat orang mengalami luka bacok dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Seluruh korban diketahui baru saja mengikuti kegiatan pengesahan anggota salah satu perguruan silat. Saat dalam perjalanan pulang, mereka diduga menjadi sasaran kelompok pelaku yang telah menunggu di sejumlah lokasi.

Kasi Humas Polres Boyolali AKP Winarsih menjelaskan, insiden pertama terjadi di Desa Trosobo, Kecamatan Sambi, sekitar pukul 00.30 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, empat orang pelaku yang mengendarai dua sepeda motor menghadang rombongan korban yang terdiri atas tujuh sepeda motor dengan total 14 orang.

Tanpa banyak bicara, para pelaku yang membawa senjata tajam langsung menyerang korban menggunakan senjata tersebut. Dari informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, seluruh pelaku menutupi identitas mereka dengan mengenakan topeng.

"Langsung menyabetkan sajam. Informasi yang kami dapat dari lokasi, pelaku memakai topeng," ujar AKP Winarsih, Senin (29/6/2026).

Polisi menduga korban yang diserang merupakan anggota rombongan yang tertinggal dari kelompok besarnya sehingga menjadi target yang lebih mudah. Selain mengakibatkan korban mengalami luka bacok, para pelaku juga membakar sepeda motor milik korban sebelum melarikan diri.

Sekitar 30 menit kemudian, aksi serupa kembali terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono. Kali ini, dua orang yang sedang berhenti di tepi jalan untuk buang air kecil tiba-tiba didatangi sekelompok pelaku bertopeng. Tanpa peringatan, korban langsung diserang menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka-luka. Tak hanya melakukan pembacokan, pelaku juga membakar sepeda motor milik kedua korban.

Akibat kejadian tersebut, dua korban dari insiden di Kecamatan Sambi dilarikan ke RS Asy Syifa Sambi untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, dua korban lainnya yang menjadi sasaran pembacokan di Banyudono dievakuasi ke RS Indriati guna menjalani perawatan intensif.

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas para pelaku dan motif di balik serangkaian aksi kekerasan tersebut. Petugas juga terus mengumpulkan keterangan saksi serta barang bukti dari lokasi kejadian guna memburu para pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran.(red/lis)

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Jadi Magnet Wisata, UMKM Lokal Kebanjiran Pembeli

  

Ribuan warga padati ritual Kebo-keboan Alasmalang, tradisi leluhur yang menghidupkan ekonomi desa.(photo by radar banyuwangi)


BANYUWANGI- Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Banyuwangi maupun daerah lain di Jawa Timur memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pada Minggu (28/6/2026), untuk menyaksikan kemeriahan ritual adat Kebo-keboan. Tradisi turun-temurun yang digelar setiap awal Bulan Suro tersebut kembali menjadi daya tarik wisata budaya yang tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa.

Sejak pagi hari, kawasan simpang empat di depan Balai Dusun Krajan yang menjadi pusat pelaksanaan ritual telah dipenuhi ribuan pengunjung. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Mereka rela datang dari berbagai daerah demi menyaksikan secara langsung salah satu tradisi adat paling ikonik di Banyuwangi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ramainya pengunjung turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga. Di sepanjang ruas jalan desa, ratusan pedagang memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak yang menjajakan beragam kuliner khas Banyuwangi, makanan tradisional, minuman, cendera mata, hingga berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perputaran ekonomi selama pelaksanaan ritual berlangsung meningkat signifikan, sehingga tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat.

Kepala Desa Alasmalang, Abdul Munir, menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan ritual Kebo-keboan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai spiritual, sosial, sekaligus ekonomi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan harapan agar musim tanam berikutnya diberikan hasil yang melimpah.

"Ritual ini adalah bentuk ikhtiar masyarakat kepada Tuhan dan mengandung makna yang baik. Kami siap mendukung penuh demi suksesnya kegiatan adat yang sudah berjalan secara turun-temurun ini," ujarnya di sela pelaksanaan kegiatan.

Sebelum memasuki prosesi utama, seluruh rangkaian ritual diawali dengan tradisi makan tumpeng bersama. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, perangkat desa, tokoh masyarakat, sesepuh adat, hingga warga duduk berdampingan menikmati hidangan sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur. Suasana hangat penuh kekeluargaan tampak begitu terasa ketika seluruh elemen masyarakat berbaur tanpa memandang status maupun latar belakang.

Prosesi inti kemudian dimulai dengan menghadirkan suasana yang semakin semarak sekaligus sarat nuansa magis. Puluhan pemuda yang telah berdandan menyerupai kerbau memasuki arena ritual. Tubuh mereka dilumuri cairan hitam pekat, dilengkapi tanduk buatan di kepala serta lonceng yang menggantung di leher sehingga menyerupai kerbau yang biasa digunakan membajak sawah.

Dengan gerakan yang lincah, para peserta menirukan perilaku kerbau saat mengolah lahan pertanian. Mereka berlari, menari, berguling di jalan, bahkan berinteraksi langsung dengan ribuan penonton yang memadati lokasi. Sesekali para peserta mengusapkan warna hitam yang melekat di tubuh mereka ke wajah pengunjung yang berada di pinggir jalan. Aksi tersebut justru disambut riuh gelak tawa, sorak-sorai, dan antusiasme masyarakat yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.

Kemeriahan ritual semakin lengkap dengan hadirnya iring-iringan perempuan petani yang mengenakan pakaian adat Suku Osing. Mereka berjalan membawa wakul berisi berbagai hasil bumi, seperti padi, sayuran, dan hasil panen lainnya. Arak-arakan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan hasil pertanian sekaligus doa agar masyarakat kembali memperoleh panen yang melimpah pada musim tanam berikutnya.

Dalam filosofi masyarakat Desa Alasmalang, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan sahabat petani yang memiliki peran penting dalam kehidupan agraris. Kerbau melambangkan kekuatan, ketekunan, kesetiaan, dan semangat bekerja keras dalam mengolah sawah. Karena itulah, ritual Kebo-keboan menjadi bentuk penghormatan kepada alam, Sang Pencipta, serta pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tradisi.

Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak abad ke-18 ini hingga kini tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Kebo-keboan tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Banyuwangi, tetapi juga berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang mampu menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Kehadiran para pengunjung memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, kuliner, jasa, hingga pariwisata desa.

Perpaduan antara nilai spiritual, kearifan lokal, pelestarian budaya, dan manfaat ekonomi menjadikan ritual Kebo-keboan Alasmalang sebagai salah satu tradisi paling autentik di Banyuwangi. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya leluhur tidak hanya layak dijaga, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi berbasis budaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(red/lis)